Skip to main content

Genesis: Ontologi Subjek



Buat Fajar, Agus Yuli, dan Dedi Sahara yang sedang berdebat soal mantan.

Dicatat dari The Sublime Object of Ideology (Slavoj Žižek), The Indivisible Remainder (Slavoj Žižek), dan Manusia Politik (Robertus Robert)


Pertanyaan:
1. Mengapa subjek Cartesian terkesan solipsis?
2. Mengapa ia dianggap sebagai sumber universalisme dan karenanya mengarah pada totalitarianisme yang ditolak keras oleh Nietzsche, Foucault, Derrida, Rorty dan kaum posmodern lainnya?
3. Mengapa Cogito cenderung ditafsirkan sebagai Aku murni yang justru tidak selaras dengan tafsir marxian ihwal masifitas kapital dan karenanya struktur?
4. Mengapa Cogito Cartesian pada akhirnya cuma barang dagangan borjuis semata?

Reframing the debate, Subjectum and Subjectus
Etienne Balibar menelusuri pencabangan tafsir Cartesian dengan mengembalikan Cogito ke laku Descartes sebagai teologi. Pembuktian ini dimulai dengan surat Descartes kepada Mersenne tertanggal 15 April 1630 yang mengatakan bahwa “Tuhanlah yang menetapkan hukum-hukum di alam ini, sebagaimana seorang raja menetapkan hukum-hukum di kerajaannya.” Konteks dari surat tersebut kurang-lebih sama dengan otorita tafsir setiap agama yang baik secara ketat maupun longgar, menyediakan arti dan makna formil dari rangkaian teks-teks religius di dalam koridor-koridor syariat.

Mengacu pada surat tersebut, terbitlah Subjectus yang pada jamannya disebut subditus. Subditus adalah praktik teologi Abad Pertengahan yang mengacu pada pengertian berikut: individu yang tunduk di bawah ditio atau otoritas kedaulatan sang pangeran, sebuah otoritas sebagai perpanjangan dari kedaulatan lain yang lebih tinggi yakni Allah.

Lantas, apa itu Subjectum? Secara sederhana, subjectum diartikan sebagai yang-mengarah-pada-substansi. Sedangkan subjectus adalah yang-mengarah-pada-subyeksi. Sebagaimana Descartes menjelaskan res cogitans dan res extensa. Perbedaannya, subjectum di dalam Descartes diartikan sebagai substansi dalam instansi metafisik, dan karenanya tidak mungkin menggunakannya sebagai ego cogito yang merupakan instansi epistemik. Sebagaimana dijelaskan Balibar, ego cogito lebih mengarah pada pengertiannya sebagai elemen representasi (extensa). Dalam tafsiran Balibar, ini terjadi karena di dalam Descartes sendiri, res cogitans, res extensa, dan temuannya akan Allah merupakan jaringan relasional, “Memungkinkan hubungan antara Tuhan yang tak terbatas dengan hal-hal yang terbatas, antara ide dan tubuh, antara jiwa dan raga saya, menjadi bisa dipikirkan.”

Dengan demikian terdapat hierarki dan komposisi kausal antar tiap substansi, yang dimulai dari res cogitans sampai ke Allah. Sekalipun cogito disampaikan sebagai forma, avant, yang terdepan, hal itu sebenarnya representasi saja atas substansi-substansi lainnya. Sederhananya, cogito (dan ke sininya merujuk pada kesadaran) tak lebih dari hanya representasi saja. Namun, bagi Balibar (dan kemudian Lacan) subjek Descartes ini hanya bisa permanen dengan menjamin dirinya untuk kembali memperkenalkan dan meminta “bantuan” Allah. Dan karenanya ia tak lain dari subjectus itu sendiri, ia yang-mengarah-pada-subyeksi.

Kerancuan dimulai dari sini, sejak Critique of Pure Reason, Kant melakukan proyeksi epistemis dari cogito ke kategori subyek transendental. Proyek Kant ini membawa serta ke dalamnya segi konstitutif penemuan subjek transendental, yang dari segi epistemis dilakukan Kant sebagai langkah pemisah dari interpretasi subjek di dalam Descartes. Tujuannya, supaya subjek muncul sebagai kesatuan sintetis yang orisinil dari kondisi objektivitas (atau pengalaman empiris). Cogito di dalamnya dirumuskan tidak hanya sekedar reflektivitas, melainkan sebagai tesis “aku berpikir” yang mempersatukan semua representasi. Inilah bentuk cogito sebagai kesadaran-diri, yang kemudian paralel dengan subjek. Kant melahirkan subjek pencerahan sebagai sepere aude.

Akibatnya, sejarah filsafat hingga sekarang ini menganggap subjek (seolah-olah) inheren dalam substansi cogito Cartesian, dan menggaungkan adanya substansi di dalam subjek (sebagai ilusi transendental). Padahal, subjek yang banyak dipahami sekarang (dan kebanyakan posmo berangkat dari sini) tak lebih dari upaya Kant agar kategori subjectus menjadi transendental, otonom, terang dan sadar, menjadi sublim, dan akhirnya menjadi akanan favorit Goenawan Mohamad.

Karenanya, jelas bahwa filsafat kontemporer bukan lagi soal subjek, melainkan soal asal-usul subjek yang telah mengalami subjektivisasi dengan penekanan pada struktur, kuasa, kultur, dsb. Inilah yang dilakukan Foucault yang lebih menganjurkan kita untuk melihat struktur feminisasi/maskulinisasi, normalisasi/kegilaan, power/wacana/individu, dst, yang merupakan subjectus belaka, bahkan untuk mendekati posisi cogito Kantian, meski bukan terhadap Allah, melainkan sejarah, kuasa, atau tubuh. Kecenderungan ini berlanjut pada Althuser yang mencemplungkan subjek ke dalam struktur yang mensubjeksi subjek dalam bayang sejarah; kelas dalam Marxist konvensional; relasi kuasa dalam Foucault; bahasa dalam Rorty. Keliaran ini bahkan sempat dirasakan Lacan dalam paparannya mengenai hasrat, bahwa sejatinya kebebasan tak dimungkinkan dan subjek selalu tunduk pada ketidaksadaran, yang berujung pada tindakan, dan karenanya tindakan subjek dalam terang kesadaran amat tidak logis dengan triad Lacanian, utamanya soal bagaimana subjek selalu masuk kembali ke ranah Simbolik.

Mempertimbangkan Slavoj Žižek
Sebagaimana yang Žižek ungkapkan dalam The Sublime Object of Ideology, Idealisme Jerman masih berguna untuk jaman ini apabila ia ditafisrkan sebagai antropologi filsafat; bahwa Hegel dan Schelling hanya bisa diselamatkan oleh Lacan.

Sekedar mengingat, upaya Žižek selama ini adalah untuk mengembalikan subjek yang digempur post-strukturalisme, yang menganggap subjek bukanlah agen otonom dengan kekuatan penentuan diri dan melulu efek saja dari berbagai diskursif. Hal tersebut ekual dengan makna subjek yang tidak terletak di dalam atau di sebuah pusat, melainkan tergeser dan berada di luar subjek. Aku bukan apa-apa selain corong dari struktur. Akan tetapi, Žižek pun tak dapat menerima tafsir subjek Pencerahan yang menganggap subjek sebagai instansi yang komplit dan lengkap. Žižek menolak Aku di dalam cogito ergo sum sebagai Aku “tuan atas diri sendiri”; yang memiliki kontrol total dan otonom. Untuk mengatasi dua hal ekstrim itulah Žižek menganjurkan membaca kembali cogito Descartes dan Idealisme Jerman melalui Lacan.

Menurut Žižek, proses kesangsian Descartes (yang dalam Marx muda berupa De Umnibus Dubitandum) harus ditafsirkan sebagai proses “penarikan ke dalam diri” (perhatikan perbedaannya dengan “penarikan diri”). Descartes melakukan apa yang Nabi Muhammad SAW lakukan dengan cara mengevakuasi diri. Jika Nabi Muhammad SAW melakukannya dengan memasuki gua Hira, Descartes berdiam di dalam sebuah ruangan kecil (saya lupa istilahnya dalam bahasa latin). Penarikan diri ke dalam ruang kongkret ini secara sistematis merupakan laku pengosongan diri dari semua pertautan dengan lingkungan hingga ia hanya tinggal bersama cogito. Untuk menemukan cogito, maka kesadaran mesti dimurnikan dari segala bentuk objek hingga yang tinggal bersama hanya sebuah bidang murni yang hanya dapat diteruskan dengan pengucapan (cogito ergo sum). Dalam Injil Yohanes diterangkan penemuan ini lewat teks “Pada mulanya adalah kata”, sedangkan dalam tradisi Islam terdapat dalam “Iqra” yang dititahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Proses evakuasi ini yang dirujuk Žižek sebagai isyarat penarikan total yang menandai transformasi dari dunia objektif ke dunia subjektif atau kultur. Penarikan Cartesian ke arah “kemurnian diri” ini yang menurut Žižek sebenarnya terpahami oleh Hegel dalam istilah “night of the world”. Hegel membangun karakter pengalaman sebuah “diri murni”, kontraksi-ke-dalam-diri dari subjek sebagai sebuah gerhana dalam realitas. Dalam proses ini, seluruh tatanan simbolik, semesta kata-kata, logos, hanya dapat muncul dari pengalaman kekosongan ini. Hegel lebih lanjut mengatakan bahwa proses penarikan ke dalam diri murni mesti masuk ke dalam eksistensi, menjadi objek, dan menghadapkan dirinya kepada kedalaman yang kemudian keluar, menjadi makhluk. Inilah yang mestinya dipahami dalam tafsir Dasein Heidegger ihwal Gerede, yang sayangnya malah ia terakan pada epistemologi bangsa Jerman. Sebab hanya lewat penamaan objek sebagai entitas individuallah maka Aku dilahirkan. Gestur yang membuka ruang bagi terang logos adalah dalam negativitas mutlak. Tidak ada subjektivitas tanpa proses evakuasi.

Dari sinilah istilah Lacan-Žižek mengenai subjek-yang-kehilangan dilahirkan. Hanya ketika realitas itu terbenam dalam “temaram dunia”, ketika dunia atau yang-objektif itu sendiri dialami sebagai sebuah kehilangan, sebuah negativitas mutlak, barulah konstruksi terhadap kultur simbolik dan subjektivitas itu dimungkinkan. Dengan kata lain, penarikan Descartes ke dalam diri tidak lain adalah kehilangan radikal. Cogito dalam Descartes bukan lagi substansi “Aku” individual, melainkan ruang kosong negativitas, sebagai kehilangan, sebagai kekosongan (Void).

Dalam The Indivisible Remainder, Žižek menjelaskan, terutama temuan Schelling akan Allah, sebagai yang mula itu, sebermula “Pada mulanya adalah Kata”, yakni yang primordial, yang Void, berupa keabadian kudus (a void of devine eternity). Menurut Schelling –dalam tafsir Žižek—kekosongan ini sendiri bukanlah kekosongan yang diam, “Awal yang sejati adalah peralihan dari gerak rotasi ‘tertutup’ dan menjadi kemajuan ‘terbuka’, dari dorongan ke hasrat, atau dalam istilah Lacanian, dari The Real menuju The Symbolic.”

Yang mula dari mula adalah semesta psikotik-khaotik dari dorongan-dorongan buta yang merupakan Sang Dasar Paripurna dari segalanya. Tidak ada yang mendahului yang-dasar ini kecuali ketiadaan itu sendiri. Menurut Žižek, kondisi primordial ini adalah suatu kondisi yang disebut “sebuah kehendak impersonal murni yang tidak menghendaki apapun”. Dengan kata lain, inilah kebebasan yang tak bercela, yang bukan milik siapapun, suatu kebebasan yang belum menjadi predikat apapun bagi suatu subjek. Inilah fakta kontinjen brutal yang mesti diandaikan ada. Pada mulanya, menurut Schelling, Allah adalah bagian dari kebebasan tak bercela ini. Ia bukan yang-individual. Allah dipahami sebagai “ketiadaan murni yang merayakan status ketiadaan dirinya itu”.

Namun, situasi ini tentu agak paradoksal (yang lebih lanjut dibahas oleh dialektika Hegel), sebab kebebasan tak bercela itu sendiri didasari oleh adanya kehendak yang tidak menghendaki apa-apa. Alhasil, timbullah kebuntuan berulang yang disebut “situasi gagal memulai”. Inilah lingkaran di mana Allah gagal membedakan diriNya dengan predikatNya. Dengan kata lain, Allah menjadi bagian dari dasar segala realitas, ia belum menjadi sebuah entitas independen. Maka, agar menjadi independen Allah mesti meloloskan diriNya dari Dasar atau melakukan apa yang disebut Schelling sebagai Ent-Scheidung, sebuah keputusan atau gerak pemisahan diri.

Di sini, menurut Žižek, filosofikasi Schelling mengenai kelahiran Allah ini paralel dengan upaya Descartes menegaskan prinsip pertama dalam filsafat, yakni dasar kokoh kedirian (the solid ground of existence) sebagaimana terdapat dalam cogito ergo sum. Satu-satunya cara agar Allah dapat mengukuhkan dasar bagi keberadaanNya adalah –sebagaimana Descartes—dengan menarik diri dari dunia objektif, dengan menendang Dasar dari diriNya. Žižek menamakannya sebagai “kegilaan kudus”. Allah sendiri mesti mengambil resiko sebelum diriNya eksis. Kegilaan kudus inilah yang memediasi ketiadaan Allah. Di titik ini Schelling dan Hegel bertemu dalam Lacan ihwal pemaparannya tentang alienasi (triad Lacan, Imajiner-simbolik-real). Karenanya, subjek harus tetap menjadi kehilangan itu, mengeksternalisasikannya agar tetap menjadi Subjek.

Implikasi pertama: Subjek bukan lagi lawan dari objek, sebagaimana diajarkan subjektivitas Pencerahan atau post-strukturalisme. Subjek dan objek adalah dua sisi mata uang, yang dalam Lacan diistilahkan sebagai external intimacy. Subjek yang dianalogikan sebagai sebuah perspektif terhadap realitas yang tidak dapat ditangkap dalam dirinya sendiri melainkan hanya di dalam cermin dari realitas itu (lebih lanjut Žižek mengedepankannya ke dalam ‘apa itu ideologi’, yakni realitas itu sendiri dan tafsiran mengenai realitas).

Implikasi kedua: Peleburan cogito dengan psikoanalisa Lacan dan tindakan Schelling menghasilkan kesimpulan yakni, kesadaran dan ketaksadaran pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan oleh sebuah demarkasi. Keduanya adalah produk dari Ent-Scheidung. Berikut kutipan Žižek dalam The Indivisble Remainder, hal. 33-34.

“Apakah persisnya ketaksadaran itu? Jawaban Schelling tidak ambigu: “ketaksadaran” bukanlah pertama-tama gerak berputar dari berbagai dorongan yang didesakkan dalam keabadian masa lalu; “ketaksadaran” sejatinya adalah tindakan Ent-Scheidung di mana dorongan-dorongan itulah yang didesak ke masa lalu. Atau dalam istilah yang sedikit berbeda, apa yang sesungguhnya tak-sadar dalam diri manusia bukanlah oposisi langsung dari ketaksadaran, sengkarut dorongan-dorongan irasional yang riuh dan kacau, tapi justru gestur kesadaran yang paling mendasar itu sendiri, tindak memutuskan yang dengannya sang Aku “memilih diriku sendiri”—yakni, kombinasi beragam dorongan ke dalam kesatuan diriKu. Ketaksadaran bukanlah sesuatu yang pasif dari dorongan lembam yang digunakan oleh aktivitas kreatif “sintetis” Ego yang sadar. Ketaksadaran, dalam dimensinya yang paling radikal, justru adalah tindakan tertinggi dari “penempatan-diri”.

Dengan mengikuti Lacan, maka eksternalisasi subjek bertempat dalam kata. Kata yang mendeklarasikan “yang mula”; Nabi Muhammad yang menempatkan dirinya dalam kalam, yang kemudian membentuk predikat bagi subjek. Kata adalah sebuah kontraksi dalam tampilannya yang justru berkebalikan: sebuah ekspansi. Dengan mengucapkan sebuah kata, subjek membelah dirinya, ia menempatkan dirinya ke dalam sebuah penanda yang mewakilinya. Di sini Žižek menegaskan dengan menemukan diriku sebagai di  luar diriku, maka aku tidak lagi bersifat diri-identis (di sinilah letak perbedaan kentaranya, epistemologinya, dengan anarkisme yang keaku-akuan). Sebab akhirnya, penanda yang mewakili aku adalah sebuah representasi yang-bukan-aku. Namun demikian, agar aku benar-benar berdiri sebagai subjek, aku mesti menerima keyakinan itu. Hanya dengan kehilangan sesuatu itu aku menjadi seseorang dan bukan menjadi ketiadaan.

Maka, jelaslah bahwa dari sini subjek bukan sesederhana identitas historis. Subjek bukan “subjek klasik” Foucauldian, lebih-lebih lagi tentang estetika “penemuan-diri” yang partikularistik (ingat soal kuasa yang menyebar; resisten menyebar; dll.) dalam menghadapi ortodoksi universalisme. Di sini subjek bukan lagi lokus yang bisa diisi penuh dengan konsistensi dan kepositifan. Subjek justru adalah fundamental lack, kekosongan yang tak akan pernah penuh “ditemukan” dalam pengertian Foucauldian itu. Jelaslah bahwa kesalahan post-strukturalisme terlalu membebankan konstruksi makna subjek yang kontinjen dalam sebuah jaringan penanda, dan luput memahami persistensi The Real yang tak dapat direpresentasikan dan tak dapat diberi makna apapun. Posmo gagal memahami daya transendental dari trauma “jouissance” yang tak bisa ditangkap secara penuh oleh ragam upaya simbolisasi.




Comments

Lainnya

No Longer Human, Osamu Dazai

Catatan panjang Yozo memberi kita gambaran ihwal bagaimana keinginan, kekecewaan, penolakan, menjadi satu dan membentuk manusia yang bahkan bagi Yozo sendiri tak lagi bisa disebut sebagai manusia. Ia memulai catatan tentang betapa hidupnya memalukan. Ia, sang manusia yang tak lagi manusia itu, bahkan menaruh rasa jijik akan wujudnya sendiri yang terdapat pada sebuah foto keluarga. Kendati pun ia seorang bocah yang kelak tumbuh menjadi pemuda tampan, menjadi anak lelaki yang membuat sang ayah gemas karena keluguannya; pelajar yang kemampuan akademiknya tak perlu diragukan, perubahan besar dari babakan hidupnya datang juga dengan jalan yang tak tertanggungkan.
Hal yang kali pertama mengganggu pikiran Yozo, adalah mekanisme tubuh menyoal rasa lapar. Ia memang tak pernah kelaparan. Namun itu bukan karena keuangan dan status orangtuanya yang terpandang. Rasa lapar baginya memang tak pernah ada, dan acara makan bersama tak lebih dari kekalahan. Sampai di sini saya pikir Dazai hendak menolak …

Burung-burung Manyar, Y.B. Mangunwijaya

Karya-karya Mangunwijaya berupa esai ilmiah maupun fiksi telah bertebaran sejak tahun 70-an. Tahun di mana saya belum terbayangkan sama sekali di benak “calon” orang tua saya. Dan sialnya, betapa nama beliau banyak dijadikan rujukan, atau sekedar bahan pembicaraan penulis-penulis besar Indonesia di saat saya hanya merasa sedikit ketertarikan pada karya-karya beliau. Ini tak jauh dari sifat saya yang gemar menaruh asumsi; pada sampul buku, pengarang, dan penerbit. Baru ketika timbul keinginan mengoleksi (atau menimbun) sebanyak mungkin buku, maka menempatkan karya Mangunwijaya ke dalam rak buku adalah sebuah kewajiban, ketimbang membacanya.
Memang tak patut ditiru hobi yang demikian itu. Juga sikap yang malah memperlambat usaha saya untuk belajar darinya. Namun, apa boleh bikin, Mangunwijaya adalah pengarang besar –dan dari sini saya mulai beralasan—dari periode yang juga mencetak raksasa seperti Sutardji Calzoum Bachri, HB Jassin, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, yang saya kira –dengan s…

Sang Pengoceh, Mario Vargas Llosa

Ocehan dan nubuat panjang ini bermula dari godaan sebuah etalase di jalan Santa Margherita. Saat itu, sang narator tengah berada di Firenze, menyusuri liku jalanan kota. Alih-alih melupakan Peru yang merupakan tanah kelahiran sang narator, setelah memasuki sebuah galeri fotografi, ingatan dan angannya terlempar jauh ke sebuah perjalanan.
Bayangan akan Peru yang permai sekaligus rapuh itu menghegemoni imajinasinya. Sang narator pun jatuh jauh ke dalam belantara Peru.
Galeri yang sedang memamerkan foto-foto bertemakan etnik tersebut merenggut perhatian narator seketika. Sebuah foto dari Gabriele Malfatti menjadi jalan masuk utama bagi bentangan luas misteri yang terhampar di Amazon raya. Uniknya, perjalanan ke belukar Amazon itu dilakukan sang narator sendiri, yang tak lain penulis novel ini, Mario Vargas Llosa.
Di bagian dua, narator memperkenalkan Saul Zuratas, yang kelak disebut Mascarita, gara-gara tanda lahir di wajahnya yang menganggu orang-orang di sekitarnya. Karakternya unik tak t…