Skip to main content

Posts

The Brief Wondrous Life of Oscar Wao, Junot Diaz

Apa yang akan kau lakukan seandainya kau adalah Oscar Wao, atau Lola, Beli atau Abelard? Apakah kau akan bertasbih, zafa, zafa, zafa, zafa saban hari demi mengusir fuku? Ya; fuku. Apa lagi jika bukan kutukan itu, yang turun-temurun membelit hidupmu dengan kesialan dan derita terus-menerus? Kau, seperti keluarga besar Cabral itu, tak akan pernah bisa lari darinya; menghindar darinya; atau bahkan lebih buruk dari itu: kau tak bisa melawannya.
Meminjam kalimat Lola, kakak perempuan Oscar: “Tetapi, selama tahun-tahun itu, pelajaran inilah yang berhasil kudapat: bahwa aku tidak akan pernah bisa melarikan diri. Tidak pernah sekali pun. Karena satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam.”
Begitulah. Hingga sampai pada titik paling minus dari tabel harapan, kau ingat betapa sialnya hidup di bawah rezim totalitarianisme seorang jendral hidung belang bernama Trujillo. Dan kau tak boleh menyebut namanya keras-keras, di dalam kamar mandi sekalipun. Sebab, dari mana kesialan datang silih bergant…
Recent posts

Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis, Jorge Amado

Peradaban Ilheus lahir dari gosip. Namun Ilheus tidak akan ada tanpa kakao, tanpa panen raya, tanpa jalur distribusi hasil buminya yang melimpah itu. Sebuah kota yang semula terbelakang, mulai membangun masa depannya sendiri lewat tangan-tangan kekar para penduduknya. Termasuk di dalamnya lusinan letusan pistol, sabetan golok, dan pertumpahan darah.
Berbeda dengan Macondo dengan pisangnya, kakao di Ilheus adalah komoditi yang mendatangkan suka cita bagi para penduduknya. Satu hal yang sama-sama dialami keduanya, adalah politik distribusi, dan karenanya politik sektoral alias kekuasaan. Para kolonel, yang diceritakan tak punya pangkat militer namun boleh menenteng senjata, adalah para penguasa perkebunan itu. Mereka saling bahu-membahu juga saling melancarkan intrik politik dari yang halus sampai vulgar demi mengamankan jalur bisnis kakao miliknya.
Gagasan politis tampil tidak dengan caranya yang kasar, melainkan terdapat dalam setiap langkah para tokoh yang karikatural. Ilheus tampak se…

Ibunda, Maxim Gorky

Pelagia Nilovna hidup di masa Revolusi Demokratik Rusia di awal abad 20. Ia mengemban tugas bukan hanya sebagai ibu rumah tangga dari suami yang beringas, atau ibu dari seorang buruh bernama Pavel Michailovitsj. Lebih dari itu, tokoh utama dalam novel Maxim Gorky ini menjadi sesosok Ibunda, menjadi sang pengayom.
Semenjak Michail Vlasov, suami Ibunda dan ayah Pavel meninggal, kehidupan mereka berubah. Kesadaran dan keberanian terbit dari duka, mungkin juga dari perasaan lega karena terbebas dari kungkungan kepala rumah tangga yang otoriter, liar, irasional, yang mempunyai tangan hanya untuk menggebuk dan mulut untuk memaki.
Sebagaimana model rumah tangga di jamannya, lelakilah yang boleh mengatur. Pelagia Nilovna tak punya pilihan lain selain menuruti apa kata suami. Pelagia bukanlah ibu yang bodoh. Ia dijadikan takut dan karenanya bodoh. Betapa tidak; makian dan pukulan selalu mengisi hari-harinya, mengerdilkan dirinya sebagai manusia ke semata budak. Baik itu budak seks dan budak dome…

Keluhan adalah Titik Awal, Bersyukur Mestinya Merupakan Sinyal untuk Bergerak Lebih Jauh, dan Akhir dari Keduanya adalah Awalan untuk Bertindak Melampaui

1. Seminggu belakangan Batam diguyur hujan lebat. Petir saling sambar dan langit seperti murka. Untuk sejenak planet “Mars” ini menjadi segar setelahnya. Jalanan tak diluberi air selokan, debu tanah merah yang semula rapat beterbangan untuk sesaat terikat dengan tanah. Saya menunggangi motor butut, merasakan udara sejuk, harum tanah sehabis hujan. Meski terdapat hal-hal yang masih membuat kedua alis saya menyatu sepanjang perjalanan pulang dari Muka Kuning ke Nongsa.
Muka Kuning adalah kawasan industri terbesar di Batam. Setidaknya terdapat 77 buah pabrik, dimana sebagian besar bergerak di bidang perakitan (manufacturing). Truk peti kemas hilir mudik keluar-masuk kawasan ini, yang sejak tahun 2000 resmi berganti nama menjadi Batamindo Investment Park.
Tak jauh dari kawasan industri, terdapat dormitory, mes atau rusun yang ditempati para buruh dari luar kota. Di mes salah seorang kawan, tiga hari berturut-turut kami mengadakan kelas, diskusi, rapat, belajar kelompok, atau apapun namanya. …

Vegetarian, Han Kang

Agak sulit mencari sampul buku ini yang berlatar putih dan bergambar sayap. Adapun sampul tersebut harus dipesan dulu dari sebuah toko di Inggris. Ongkos kirimnya tampak kurang masuk akal. Saya menyerah dan kembali dari Periplus dengan menjinjing Vegetarian bersampul merah muda (bergambar siluet perempuan). Itu pun baru terlaksana sekitar empat bulan lebih selepas Han Kang & Deborah Smith memenangkan Man Booker International Prize.
Namun tak lama kemudian, terjemahan international bestseller ini pun dilansir dengan sampul yang pas. Latar hitam dengan gambar kelopak bunga merah muda yang mencolok. Pembaca akan paham mengapa, pada akhirnya, Vegetarian dengan gambar sampul kelopak bunga ini lebih pas ketimbang gambar siluet perempuan atau bahkan versi cetakan pertamanya yang bergambar sayap.
Novel ini sesungguhnya tak berbicara tentang pola hidup sehat. Young Hye tidak sedang mengamalkan diet vegetarian yang ketat. Tak ada resep-resep kuliner vegan a-la Korea Selatan yang bisa kita tir…

Kepada Kawan, Tentang Omong Kosong

Pukul tiga dini hari. Dengan rokok yang sekali dua saya hisap dan letakkan di tepi meja, saya masih anteng mereparasi beberapa tulisan lama yang teronggok di laptop. Seorang kawan meminta esai bertemakan feminisme, atau yang sejenis, untuk acara yang juga sejenis, yang bakal dihelat di UNPAD, Bandung.
Seperti biasa, permintaan kawan untuk urusan yang sudah sama-sama kita ketahui sukarnya itu, selalu datang di waktu yang lumayan tenggat. Dan sesingkat apa pun waktu yang tersedia untuk menulis, itu merupakan tantangan bagi polah kepenulisan kita. Sekali pena kau ambil, haram hukumnya untuk kau letakkan kembali. Kecuali lapar. Tapi memang benar. Revisi belakangan. Pepatah lama itu selalu bijak: tulis dahulu, berpikir setelahnya, merevisi kemudian.
Kau tak bisa merevisi apa pun, jika toh tak sekalimat pun wujud tulisan nampak di layar laptop. Dan kau pun tahu, saya selalu sebal dengan tulisan yang buruk, yang saya tulis di tahun-tahun belakangan. Membaca karya sendiri yang sudah terlanjur ta…